**Tanggunggunung** – Puluhan pelajar Nahdlatul Ulama (NU) se-Kecamatan Tanggunggunung memadati halaman dan ruang utama Masjid Besar Albarokah pada malam yang bersejarah, Ahad 15 Februari 2026. Mereka bukan sekadar berkumpul, tetapi menjadi bagian dari sebuah pawai semangat dan kebanggaan yang digelar oleh Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) setempat. Acara bertajuk "Roadshow PAC IPNU IPPNU Kecamatan Tanggunggunung" ini lebih dari sekadar pertemuan rutin ia adalah sebuah pernyataan, sebuah wujud nyata bagaimana gerakan pelajar NU memadukan secara harmonis antara kedalaman spiritualitas, kecintaan pada budaya lokal, dan semangat regenerasi keagamaan.
Suasana malam itu sudah terasa hangat sejak matahari terbenam. Lampu masjid yang berpendar cahaya kekuningan menyinari wajah-wajah muda yang penuh antusias. Mereka, yang berasal dari berbagai sekolah dan madrasah di Tanggunggunung, datang dengan seragam putih bersih menandakan kesucian, namun tekad satu tujuan menyatukan mereka dalam meneladani jejak para leluhur sambil menyongsong bulan suci Ramadhan dengan hati yang bersih dan jiwa yang siap. Roadshow ini dirancang sebagai sebuah rangkaian kegiatan yang tidak hanya menyegarkan kembali keikhlasan berorganisasi, tetapi juga melestarikan tradisi luhur yang telah mengakar kuat di masyarakat Nahdliyin.
Acara dimulai tepat pada pukul 19.30 WIB setelah seluruh peserta dan hadirin tampak tertata dengan rapi. Pembawa acara, dengan suara yang lantang dan berwibawa, memandu jalannya pembukaan. Sebagai sebuah organisasi yang mencetak kader bangsa, pembukaan diawali dengan mengumandangkan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Berdiri tegap, suara puluhan pelajar itu menyatu menjadi satu paduan suara yang menggema di seluruh penjuru masjid. Tidak ada setengah-setengah, lagu tersebut dinyanyikan dengan penuh penghormatan dan kebanggaan, sebuah simbol bahwa nasionalisme mengalir dalam darah setiap kader IPNU IPPNU.
Usai seremoni nasional, acara beralih ke identitas organisasi. Lagu "Syubanul Wathan" berkumandang dengan gegap gempita. Lagu yang menjadi mars induk Nahdlatul Ulama ini dinyanyikan dengan semangat juang, mengingatkan semua yang hadir akan peranan besar NU dalam mempertahankan NKRI dan membumikan Islam yang rahmatan lil 'alamin. Semangat itu kemudian dilanjutkan dengan mars IPNU IPPNU, sebuah lagu yang menjadi jati diri bagi para pelajar. Liriknya yang penuh dengan seruan untuk belajar, beramal, dan berjuang di jalan Allah seolah menjadi mantra yang mengikat tekad para pelajar malam itu.
Di tengah-tengah semangat yang memuncak, suasana berubah menjadi lebih khusyuk dan hening. Grub sholawat gabungan PAC IPNU IPPNU Tanggunggunung, yang telah siap, mulai melantunkan pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Alunan rebana dan vokal yang merdu menciptakan atmosfer spiritual yang begitu kental. Diiringi oleh sholawat yang merayun, seluruh peserta menggelar tahlil dan doa bersama untuk mendoakan para leluhur, para ulama pendahulu, dan arwah kaum muslimin yang telah lebih dulu menghadap sang Pencipta.
Acara tahlil dipimpin langsung oleh seorang sosok yang sangat dihormati di Tanggunggunung, Kiyai Jumali. Beliau, yang juga dikenal sebagai pimpinan takmir masjid Besar Al-Barokah, memimpin doa dengan suara yang berwibawa namun penuh kasih. Setiap lafaz yang keluar dari mulutnya begitu sarat akan makna, mengingatkan para pelajar akan pentingnya menghargai jasa para pionir yang telah membangun fondasi keagamaan dan kebangsaan bagi generasi penerus. "Mendoakan mereka adalah bentuk bakti kita, sekaligus cara kita memohon kelancaran dalam setiap langkah, karena doa mereka adalah doa yang mustajab," ucap Kiyai Jumali dalam sebuah kesempatan singkat seusai tahlil.
Usai pembukaan spiritual, giliran Ketua PAC IPNU Kecamatan Tanggunggunung, Rekan Dimas Ardiansyah, untuk naik ke podium. Dengan gaya bicaranya yang lugas dan visioner, ia menyampaikan sambutan yang menjadi inti dari filosofi roadshow malam itu.
Dimas mengawali sambutannya dengan menyapa seluruh hadirin, terutama para pelajar yang ia sebut sebagai "asset terbesar NU di masa depan." Ia menekankan bahwa eksistensi IPNU IPPNU tidak boleh terjebak pada satu dimensi saja. "Seringkali ada pandangan yang menyederhanakan, bahwa pelajar NU itu hanya sibuk dengan urusan agama semisal pengajian, tahlilan, atau kegiatan keagamaan lainnya. Pandangan itu tidak salah, tapi belum lengkap," ujarnya, disambut anggukan kepala dari para hadirin.
Ia melanjutkan dengan penekanan yang lebih tajam, "Kami di PAC IPNU IPPNU Tanggunggunung ingin memperkenalkan kembali paradigma yang sesungguhnya, yang telah diajarkan oleh para pendiri NU. Pelajar NU adalah pelajar yang utuh. Ia adalah penuntut ilmu agama, sekaligus penjaga dan pelestari budaya lokal. Kekuatan Nahdlatul Ulama terletak pada kemampuannya mensintesiskan ajaran Islam dengan kearifan lokal. Ini adalah 'Islam Nusantara' yang kita hidupkan sehari-hari."
Dimas kemudian mengaitkan pernyataannya dengan acara yang sedang berlangsung. "Malam ini, kita tidak hanya mengadakan roadshow organisasional. Di dalamnya, kita juga menggelar 'megengan'. Bagi masyarakat Jawa, khususnya di lingkungan Nahdliyin, megengan adalah sebuah tradisi untuk menyambut bulan Ramadhan. Ini adalah momentum untuk berkumpul, berbagi kebahagiaan, dan secara spiritual membersihkan diri sebelum memasuki bulan penuh berkah. Dengan menggelar megengan, kita secara tidak langsung mengatakan pada dunia bahwa menjadi pelajar NU itu berarti mencintai budaya kita sendiri."
Ia menambahkan, "Budaya bukanlah sesuatu yang asing bagi Islam. Selama tidak bertentangan dengan syariat, budaya adalah sarana yang indah untuk mengekspresikan keimanan. Megengan, selamatan, dan berbagai tradisi lainnya adalah wujud dari syukur dan kebersamaan. Ini adalah identitas kita, dan ini yang akan terus kami gaungkan."
Sambutan Rekan Dimas Ardiansyah tersebut menjadi penguat semangat bagi para pelajar, bahwa mereka adalah bagian dari sebuah gerakan besar yang tidak hanya mengurus akhirat, tetapi juga memakmurkan dunia dengan cara melestarikan kebaikan-kebaikan lokal.
Tiba di puncak acara, semua mata tertuju pada mimbar utama. Sebuah sosok yang disegani di tingkat kecamatan, Bapak Eko Ali Sadikin, selaku Ketua Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Kecamatan Tanggunggunung, naik untuk memberikan mauidhoh hasanah atau nasihat yang baik. Kehadirannya sendiri sudah memberikan dampak luar biasa pada khusyuknya acara.
Bapak Eko Ali Sadikin mengawali materinya dengan sebuah pertanyaan filosofis, "Apakah kita sudah siap menyambut tamu agung yang akan datang dalam hitungan hari?" Ia merujuk pada bulan Ramadhan 1447 H yang sudah di depan mata. Menurutnya, persiapan menyambut Ramadhan tidak boleh setengah-setengah. Ia kemudian membagi persiapan tersebut ke dalam dua aspek fundamental yang saling terkait: aspek *jasmaniyah* (fisik) dan aspek *batiniyah* (spiritual batin).
"Persiapan jasmaniyah adalah fondasi," tegasnya. "Bagaimana kita bisa beribadah dengan maksimal jika badan kita lemas dan sakit? Mulai dari sekarang, atur kembali pola tidur. Biasakan diri untuk bangun sahur, meski ini masih bulan Syakban. Kurangi begadang yang tidak ada manfaatnya. Perhatikan asupan makanan, mulai biasakan makan yang bergizi dan teratur. Ini semua bukan untuk kesehatan dunia semata, tetapi agar kita memiliki energi yang prima untuk menjalani tarawih, tahajud, dan ibadah-ibadah lainnya di bulan Ramadhan."
Ia melanjutkan dengan memberikan tips praktis, seperti olahraga ringan secara rutin dan banyak minum air putih. "Jangan sampai Ramadhan kita malah banyak bolong karena sakit. Itu akan sangat disayangkan."
Beralih ke aspek yang lebih dalam, Bapak Eko mengajak seluruh hadirin untuk melakukan "pembersihan internal" atau *batiniyah*. "Persiapan batin jauh lebih penting. Ramadhan adalah bulan pelatihan spiritual. Mari kita mulai dari sekarang untuk melatih kesabaran. Ketika di jalan macet, saat antri, atau ketika ada orang yang menyakiti hati kita, latihlah diri untuk bersabar. Itu adalah latihan awal untuk Ramadhan."
Ia juga menekankan pentingnya mengendalikan amarah. "Mulai sekarang, praktikkan untuk tidak mudah marah. Pahatkan dalam hati, mulut adalah senjata, jangan sampai melukai orang lain dengan kata-kata kasar. Puasa kita nanti akan sia-sia jika sifat-sifat buruk tidak kita ubah."
Aspek lain yang ia tekankan adalah memperbanyak amal shaleh pra-Ramadhan. "Perbanyak membaca Al-Quran, meski hanya satu ayam per hari. Perbanyak sedekah, meski hanya sejumlah recehan. Perkuat tali silaturahim, hubungi kembali kerabat yang lama tidak terdengar kabarnya. Ini semua adalah pemanasan agar di bulan Ramadhan nanti, amal kebaikan kita mengalir deras tanpa hambatan."
Mauidhoh hasanah yang disampaikan dengan bahasa yang sederhana namun sarat makna ini mampu menyentuh hati para pendengarnya. Nasihat itu bukanlah teori tinggi, melainkan panduan praktis yang bisa langsung diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari..
Usai mauidhoh hasanah, suasana spiritual mencapai puncaknya. Grub sholawat yang sebelumnya sudah memanaskan suasana, kini memimpin pembacaan mahallul qiyam. Ini adalah momen yang paling ditunggu oleh banyak peserta. Alunan rebana yang semakin menggelegar dipadukan dengan suara vokal yang membawa lantunan pujian kepada Nabi Muhammad SAW.
Seluruh peserta berdiri. Beberapa di antarada ada yang menangis haru, ada yang menunduk dengan khusyuk, dan ada yang mengangkat tangan seolah ingin menyentuh langit. Mahallul qiyam adalah sebuah ritual spiritual yang memungkinkan seseorang untuk menumpahkan segala rasa cinta, rindu, dan penghormatan kepada Rasulullah. Di dalam Masjid Besar Albarokah malam itu, energi spiritualnya begitu terasa. "Sangat khidmat," adalah kalimat yang tepat untuk menggambarkan momen ini. Setiap ayat yang dilantunkan seolah menembus dinding fisik, langsung menyentuh kalbu yang hadir.
Akhirnya, setelah deru sholawat mereda, acara mendekati titik akhir. Sebagai penutup, doa dipimpin oleh Sekretaris MWCNU Tanggunggunung, Bapak Ustadz Rohman. Dengan suara yang khas dan penuh keberkahan, ia memanjatkan doa untuk kesuksesan para pelajar, kebaikan bagi seluruh jamaah, kelancaran dalam menyambut Ramadhan, dan kejayaan Nahdlatul Ulama di masa depan. "Aamiin, ya Rabbal 'alamin," jawab seluruh jamaah dengan serempak, mengakhiri serangkaian acara yang penuh makna.
Roadshow PAC IPNU IPPNU Kecamatan Tanggunggunung bukan sekadar seremoni. Ia adalah sebuah cerminan dari sebuah gerakan pelajar yang berakar kuat pada nilai-nilainya, namun terus melangkah maju dengan adaptif. Malam itu, IPNU IPPNU telah berhasil menunjukkan bahwa menjadi pelajar NU di era modern adalah sebuah kebanggaan: sebuah peran di mana spiritualitas, budaya, dan intelektualitas berpadu dalam satu ikatan persaudaraan yang tak terpisahkan. Dengan bekal semangat ini, puluhan pelajar NU Tanggunggunung siap menyongsong Ramadhan 1447 H dengan jiwa yang lebih matang dan hati yang lebih bersih.


0 Komentar