Tanggunggunung, 15 Januari 2025 – Dalam upaya menanamkan nilai-nilai keislaman yang mendalam dan relevan dengan tantangan zaman, SMP Negeri 2 Tanggunggunung menjalin kerjasama strategis dengan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Tanggunggunung. Kerjasama yang difasilitasi melalui Departemen Jaringan Sekolah dan Pesantren PAC IPNU IPPNU setempat ini, membuahkan hasil berupa kegiatan peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW yang berlangsung sangat meriah dan penuh khidmat di halaman sekolah, Jumat (15/12/2023) lalu.
Acara yang bertujuan untuk mempertebal keimanan dan ketaqwaan siswa-siswi ini diikuti dengan antusiasme luar biasa oleh seluruh siswa SMPN 2 Tanggunggunung, mulai dari kelas VII hingga kelas IX. Tampak siswa memadati area acara, dengan pakaian yang rapi dan sorot mata penuh keingintahuan, siap menyerap ilmu dan siraman rohani yang akan disampaikan.
Kegiatan ini merupakan wujud nyata dari komitmen bersama antara lembaga pendidikan formal dan organisasi kemasyarakatan keagamaan pemuda dalam mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga kokoh secara spiritual dan karakter. Departemen Jaringan Sekolah dan Pesantren PAC IPNU-IPPNU Tanggunggunung memainkan peran krusial sebagai jembatan yang menghubungkan dua entitas ini, memahami bahwa pendidikan holistik memerlukan sinergi dari berbagai pihak.
Dalam sambutannya, Ketua PAC IPNU Kecamatan Tanggunggunung, Dimas Ardiansyah, menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada pihak sekolah, terutama Kepala SMPN 2 Tanggunggunung dan seluruh dewan guru, atas terlaksananya kerjasama yang solid ini. Ia menegaskan bahwa kegiatan semacam ini bukanlah sekadar seremonial peringatan hari besar Islam, melainkan sebuah investasi jangka panjang untuk masa depan para pelajar.
"Kami dari IPNU-IPPNU merasa terhormat bisa berkolaborasi dengan SMPN 2 Tanggunggunung, sebuah lembaga pendidikan yang memiliki visi ke depan dalam membentuk karakter siswa. Hari ini kita berkumpul bukan hanya untuk mengenang perjalanan agung Nabi Muhammad SAW, tetapi untuk meneladani nilai-nilainya dan menerjemahkannya dalam kehidupan kita sebagai pelajar di era modern," ujar Dimas di depan siswa dan guru.
Lebih lanjut, ia dengan tegas menyampaikan harapannya agar kerjasama yang telah terjalin ini tidak berhenti hanya pada periode kepengurusan saat ini. "Sinergi dan kerjasama ini harus terus berlangsung, bahkan diperkuat di periode-periode mendatang. Banyak program yang bisa kita gelar bersama, mulai dari pendampingan belajar, seminar keagamaan, pelatihan kepemimpinan remaja, hingga kegiatan sosial kemasyarakatan. IPNU-IPPNU siap menjadi mitra strategis sekolah dalam mencetak kader-kader bangsa yang berilmu, berakhlak mulia, dan berjiwa sosial. Mari kita jadikan kerjasama ini sebagai contoh bagi lembaga lain di Tanggunggunung," tambahnya dengan semangat.
Selanjutnya, giliran perwakilan dari dewan guru, Bapak Drs. Untung Basuki, yang menjadi perwakilan Kepala Sekolah SMPN 2 Tanggunggunung memberikan sambutan yang penuh dengan nuansa edukatif dan religius, beliau menegaskan esensi sejati dari peringatan Isra Mi'raj.
Dengan suara yang lantang dan berwibawa, Pak Untung, sapaan akrabnya, mengawali dengan menjelaskan bahwa Isra Mi'raj adalah mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW yang sarat akan hikmah. "Momen bersejarah ini bukan hanya sekadar perjalanan fisik dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu naik ke langit ketujuh. Lebih dari itu, ini adalah perjalanan spiritual yang menunjukkan kemuliaan Nabi Muhammad, keagungan Islam, dan pentingnya komitmen seorang hamba kepada Tuhannya," jelasnya.
Ia kemudian mengaitkannya dengan tujuan diselenggarakannya kegiatan di sekolahnya. "Kegiatan ini tidak lain dan tidak bukan untuk menambah dan mempertebal keimanan kita kepada Allah SWT. Di tengah arus globalisasi yang membawa berbagai pengaruh, baik positif maupun negatif, fondasi iman adalah satu-satunya benteng terkuat bagi anak-anak kita. Melalui pemahaman yang lebih dalam tentang ajaran Islam, kita harap mereka dapat memfilter informasi dan memilih jalan hidup yang benar," ujarnya.
Pak Untung menambahkan, tujuan selanjutnya adalah untuk menguatkan ajaran Islam di hati santri, atau dalam konteks ini, di hati para siswa didiknya. "Ilmu pengetahuan tanpa iman adalah ibarat pohon tanpa akar. Ia mungkin tumbuh tinggi, tetapi akan mudah tumbang diterpa angin. Sebaliknya, iman tanpa ilmu adalah ibarat akar tanpa pohon. Ia kokoh, tetapi tidak memberikan buah yang bermanfaat. Di SMPN 2 Tanggunggunung, kami berkomitmen untuk menyeimbangkan keduanya. Kegiatan hari ini adalah bagian dari upaya kami menanamkan nilai-nilai kesalehan dalam kehidupan sehari-hari para siswa, supaya mereka tidak hanya menjadi siswa yang pintar secara akademis, tetapi juga menjadi pribadi yang shalih dan shalihah, yang bermanfaat bagi lingkungan dan bangsa," pungkasnya, yang kembali disambut aplaus dari seluruh hadirin.
Tepat setelah sambutan, acara memasuki inti dari peringatan Isra Mi'raj, yaitu pemaparan materi. Departemen Jaringan Sekolah dan Pesantren PAC IPNU-IPPNU dengan cermat memilih dua materi yang sangat relevan dengan kondisi dan kebutuhan pelajar masa kini. Materi pertama, yang dibawakan oleh Dimas Ardiansyah yang juga ketua IPNU seorang akademisi muda dari IPNU yang memiliki latar belakang pendidikan Ilmu Syariah, mengangkat tema "Islam dan Sains: Menggali Mukjizat Isra Mi'raj dalam Perspektif Ilmiah".
Rekan Dimas membuka sesinya dengan sebuah pertanyaan provokatif yang langsung menyita perhatian seluruh siswa: "Saudara-saudaraku sekalian, apakah kalian percaya bahwa kecepatan cahaya sudah disebutkan dalam Al-Qur'an 1400 tahun lalu, jauh sebelum ilmuwan modern menemukannya?" Pertanyaan ini sontak membuat suasana menjadi lebih hidup. Para siswa tampak berbisik-bisik dan menatap pemandu acara dengan penuh rasa ingin tahu.
Dengan gaya bahasa yang ringan dan diselingi humor, rekan dimas kemudian menjelaskan bagaimana perjalanan Isra Mi'raj dapat dilihat dari kacamata sains. Ia menghitung secara kasar kecepatan yang diperlukan Buraq untuk melakukan perjalanan tersebut, yang menurutnya mendekati atau bahkan melampaui kecepatan cahaya. Ia menekankan bahwa ini bukan untuk meragukan kemukjizatan, melainkan untuk memperkuat keimanan bahwa Al-Qur'an adalah kitab sains yang terbukti kebenarannya di zaman modern.
"Bukankah Allah berfirman dalam surah An-Najm ayat 1, 'Demi bintang ketika terbenam?' Ini adalah salah satu dari sekian banyak ayat yang menjadi cikal bakal ilmu astronomi. Perjalanan Nabi melalui berbagai lapisan langit juga bisa kita analogikan dengan pemahaman kita tentang tata surya dan alam semesta yang begitu luas ini. Sains tidak bertentangan dengan Islam. Justru, semakin dalam kita menyelami sains, semakin kita menyadari betapa agung dan sempurnanya ciptaan Allah," jelasnya.
Setelah istirahat sejenak, acara dilanjutkan dengan materi kedua yang tak kalah pentingnya, yaitu "Kesalehan Digital". Materi ini disampaikan oleh Ustad Amirudin Hasyim seorang aktivis IPNU pada zamanya yang juga seorang praktisi di bidang Kependidikan dan teknologi. Topik ini sangat relevan mengingat hampir seluruh siswa SMP saat ini adalah pengguna aktif gawai dan media sosial.
Ustadz Amirudin memulai sesinya dengan memetakan kondisi dunia digital saat ini. Ia menampilkan beberapa slide yang menunjukkan data statistik tentang pengguna internet di Indonesia, dominasi media sosial, dan maraknya konten negatif seperti hoaks, cyberbullying, dan pornografi. "Saudaraku, gawai di tangan kalian adalah sebuah kekuatan yang luar biasa. Ia bisa menjadi jendela ilmu yang tak terbatas, tapi juga bisa menjadi pintu gerbang menuju keburukan jika kita tidak pandai menggunakannya," ujarnya dengan tegas.
Ia kemudian mendefinisikan apa itu "Kesalehan Digital". "Kesalehan digital bukan berarti kita harus menjauhkan diri dari teknologi. Tidak. Kesalehan digital adalah bagaimana kita memanfaatkan teknologi untuk mendekatkan diri kepada Allah, untuk bermanfaat bagi sesama, dan menjaga diri dari dosa di dunia maya, sama seperti kita menjaga diri di dunia nyata," jelasnya.
Kegiatan yang penuh makna ini akhirnya mencapai puncaknya. Sebelum penutupan, seluruh siswa dan panitia bersama-sama membaca doa yang dipimpin oleh Bapak Drs. Mulyono guru pendidikan agama Islam di sekolah tersebut. Dalam lantunan doa yang khusyuk, mereka memohon agar ilmu yang telah diterima dapat bermanfaat, menjadi bekal kehidupan, dan senantiasa dalam lindungan Allah SWT. Acara resmi ditutup sekitar pukul 14.00 WIB, meninggalkan kesan mendalam dan harapan baru bagi generasi muda Tanggunggunung.
Suksesnya pelaksanaan kegiatan ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara lembaga pendidikan formal dengan organisasi kepemudaan Islam seperti IPNU-IPPNU adalah sebuah formula yang tepat dalam membentuk karakter generasi milenial dan Gen Z yang berlandaskan iman dan ilmu pengetahuan. Semoga kerjasama ini terus berlanjut dan menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain untuk melakukan hal serupa, demi terwujudnya Indonesia yang lebih baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.


0 Komentar