*TANGGUNGGUNUNG, Ahad 18 Januari 2026* – Sebuah lembaran baru dalam sejarah pergerakan pelajar Nahdlatul Ulama (NU) di Kecamatan Tanggunggunung ditulis pada Minggu, 18 Januari 2026. Dengan suasana yang penuh khidmat dan semangat kebersamaan, acara pelantikan gabungan pengurus Ranting Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) dari empat desa yakni Jengglungharjo, Tanggunggunung, Ngepoh, dan Pakisrejo berlangsung sukses. Acara yang dihadiri oleh puluhan peserta kader ini bukan sekadar seremonial, melainkan sebuah deklarasi komitmen untuk membangun ekosistem organisasi yang lebih solid dan kolaboratif.
Digelar di sebuah venue yang penuh makna yakni di Gedung MWC NU Tanggunggunung, kegiatan ini dimulai dengan prosesi pembukaan yang sakral. Lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang pertama, diikuti dengan lantunan penuh semangat lagu kebanggaan masyarakat NU yaitu Syubbanul Wathan, dan mars IPNU-IPPNU. Deretan lagu ini bukanlah sekadar rutinitas, melainkan sebuah simbol penegasan identitas: sebagai generasi muda Indonesia yang cinta tanah air, sekaligus kader setia Nahdlatul Ulama yang siap membela agama, bangsa, dan negara.
Semangat hari itu terangkum dalam sebuah tema yang dipilih dengan sangat cermat: *"Bersinergi dalam Belajar, Berpadu dalam Memimpin."* Tema ini bukanlah sebuah frasa hiasan, melainkan sebuah landasan filosofis bagi kepengurusan yang baru dilantik. "Bersinergi dalam Belajar" mengandung makna bahwa empat ranting yang ada tidak lagi boleh bekerja dalam silo-silo egoistik. Mereka diajak untuk saling berbagi ilmu, pengalaman, dan sumber daya. Sebuah program unggulan di satu ranting dapat direplikasi dan dikembangkan di ranting lain, kegagalan di satu tempat menjadi pembelajaran bersama agar tidak terulang di tempat lain. Ini adalah wujud dari jama'ah, di mana kekuatan tidak lagi diukur dari kehebatan individu, melainkan dari kemampuan kolektif untuk saling melengkapi.
Sementara itu, "Berpadu dalam Memimpin" adalah sebuah seruan untuk menyatukan visi dan misi. Meskipun memiliki empat struktur kepengurusan yang berbeda, IPNU-IPPNU di Tingkat Ranting se-Tanggunggunung harus hadir sebagai satu kekuatan yang solid di hadapan masyarakat dan pemerintah desa. Ketika ada isu yang menyangkut pelajar, mereka harus suara yang kompak. Ketika ada program kerja yang bermanfaat, mereka harus garda terdepan yang bergerak bersama. Ini adalah esensi dari kepemimpinan kolektif yang mampu menciptakan dampak yang lebih luas dan signifikan.
Acara yang penuh makna ini akhirnya mencapai puncaknya. Sebelum penutupan, dilaksanakan prosesi pelantikan dan pengambilan sumpah yang dipimpin langsung oleh Ketua PAC IPNU dan IPPNU Tanggunggunung, disaksikan oleh para tamu undangan dan seluruh anggota. Satu per satu, pengurus baru dari empat ranting mengucapkan ikrar setianya, sebuah janji yang akan menjadi pegangan dalam menjalankan roda organisasi.
Aziz Yuandika, yang dalam acara ini merangkap sebagai Ketua Pelaksana sekaligus salah satu perwakilan ketua ranting yang dilantik, naik ke podium dengan wajah penuh syukur. Dalam sambutannya, ia tidak hanya menyampaikan rasa terima kasih secara formal. Ia melihat kehadiran para tamu undangan mulai dari perwakilan Fatayat, Muslimat, Ansor, Banser, hingga jajaran pimpinan Ranting NU, Rois Syuriah, dan Ketua Tanfidziah sebuah bukti nyata bahwa gerakan pelajar tidak berjalan sendirian.
"Kehadiran Bapak-Ibu sekalian adalah bentuk nyata bahwa IPNU-IPPNU ini adalah anak kandung dari Nahdlatul Ulama yang besar. Kami tidak mungkin bisa berdiri kokoh tanpa dukungan, doa, dan bimbingan dari senior-senior kami. Terima kasih atas keikhlasan Bapak-Ibu semua dalam menyongsong kegiatan ini, yang kami harapkan akan menjadi tonggak sejarah bagi pergerakan pelajar di Tanggunggunung," ucap Aziz dengan suara bergetar, diiringi tepuk tangan meriah dari hadirin.
Giliran kemudian beralih kepada sosok yang menjadi panutan bagi para pelaku organisasi di tingkat ranting, Rekan Dimas Ardiansyah, selaku Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU Kecamatan Tanggunggunung. Dalam pidatonya, ia tidak memberikan ucapan selamat yang basa-basi. Ia langsung menyasar ke inti esensi kepemimpinan.
"Hari ini adalah tonggak awal perjuangan kalian. Pelantikan bukanlah puncak, melainkan titik start. Baik buruknya sebuah organisasi di masa depan, sangat-sangat bergantung kepada ketua yang dilantik hari ini," tegas Dimas, membuat suasana menjadi lebih serius. Ia kemudian mengulaskan sebuah analogi yang sangat mudah dipahami. "Ketua adalah representasi dari seluruh pengurus. Jika ketuanya adalah orang yang baik, jujur, visioner, dan pekerja keras, maka insyaallah organisasinya akan menjadi organisasi yang digdaya, yang mampu bersaing, dan yang memberikan manfaat nyata bagi anggotanya. Akan tetapi, jika ketuanya buruk, malas, dan hanya mementingkan egonya, maka organisasinya akan sakit. Ia akan lumpuh, dihantam konflik internal, dan pada akhirnya akan ditinggalkan oleh anggotanya dan organisasinya rusak"
Rekan Dimas juga tidak menutup mata terhadap realitas organisasi. Ia menasihati para ketua yang baru dilantik untuk siap menghadapi dinamika. "Dalam berorganisasi, dinamika pasti ada. Akan ada pertukaran pendapat yang sengit, akan ada selisih paham, dan akan ada momen-momen di mana rasa kekeluargaan menipis. Hadapi semua itu dengan hati yang dingin dan pikiran yang terbuka. Jangan biarkan emosi sesaat menghancurkan ikatan yang sudah susah payah kalian bangun," pesannya, memberikan bekal mental yang sangat berharga.
Suasana semakin memanas dengan kobaran semangat ketika giliran Wakil Ketua MWC NU Tanggunggunung, Bapak Darto, naik ke podium. Dengan gaya bicaranya yang khas dan berapi-api, ia menyampaikan sebuah tantangan keras kepada para pengurus baru.
"Kalau kalian memilih menjadi pengurus, jadilah pengurus yang serius! Jangan jadi pengurus yang hanya cari nama, yang hanya ingin jabatannya tercantum di kartu nama atau di spanduk acara. Jangan pula jadikan organisasi ini sebagai batu loncatan untuk mencapai tujuan pribadi," serunya dengan suara yang lantang.
"Organisasi ini butuh sumbangsih yang nyata! Apa sumbangsih kalian? Apakah sudah membuat program yang benar-benar bermanfaat bagi masyarakat? Apakah sudah meningkatkan kapasitas anggota? Atau hanya sibuk dengan urusan administrasi internal yang tidak menghasilkan apa-apa? Tunjukkan kepada kami, tunjukkan kepada masyarakat, bahwa kalian adalah pemimpin-pemimpin muda yang benar-benar memberi dampak! Kalian menjadi harapan kami dan yang kami harapkan untuk berkhidmah di NU. Kalian menjadi masa depan NU dan harapan NU masa depan" Pidato Darto ini sontak membuat para pengurus baru menunduk sejenak, seolah merespons beban dan amanah yang baru saja dipikul di bahunya.
Sebagai penutup sambutan dari tingkat cabang, Wakil Ketua PC IPNU Tulungagung menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya. "Saya sangat bangga dan mengapresiasi inisiatif gabungan empat ranting ini. Ini adalah contoh nyata semangat kebersamaan yang harus kita teladani. Teruslah berkarya, teruslah berorganisasi dengan baik, karena IPNU-IPPNU adalah laboratorium terbaik untuk kalian belajar menjadi pemimpin masa depan bangsa ini, Rangkulah ranting yang baru terbentuk bangunlah rasa kjekluargaan yang baik dan jadilah pemimpin yang kuat sebagaimana dikatakan ketua PAC IPNU Tanggunggunung" ujarnya memberikan dorongan semangat.
Siang itu, dengan kondisi diluar gedung hujan deras, lantunan doa yang dipimpin oleh K.H. Imam Syafii selaku Wakil Rois Syuriah MWC NU Tanggunggunung menutup acara ini. Dalam doanya, ia memohon kepada Allah SWT agar para pemimpin muda yang baru dilantik senantiasa diberikan kekuatan, kebijaksanaan, dan ridha-Nya dalam menjalankan amanah. Doa itu menjadi penutup yang sempurna, menyerahkan seluruh rencana dan kerja keras ke tangan Yang Maha Kuasa, sebagai awal dari sebuah perjalanan panjang IPNU-IPPNU Ranting Jengglungharjo, Tanggunggunung, Ngepoh, dan Pakisrejo dalam "bersinergi dan berpadu" untuk masa depan yang lebih gemilang.


0 Komentar